Astaliah, Maestro Tari Topeng Itu Telah Pergi

Nenek Astaliah Maestro Tari Topeng Wafat

Penari Topeng Banjar Astaliah. /Ist

Semua terkejut dan merasa tak percaya, sang maestro Tari Topeng Banjar telah pergi untuk selamanya. Iya, Nenek Astaliah, 118 tahun,  tutup usia di Desa Barikin, Kecamatan Haruyan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalsel pada Jumat (20/3/2015) sekitar pukul 4 sore.

Kabar terkini didapat dari pesan singkat Kasie Pergelaran Taman Budaya Kalsel, Syahriani Jumat pada pukul 20.51 Wita. Menurut Syahriani, nenek Astaliah merupakan satu-satunya yang tersisa dari penopengan yang menguasai seluruh gerak topeng klasik Banjar.

“Nenek Astaliah juriat penopengan di Barikin menutup usianya dengan masih menyimpan segudang keilmuan  di bidang tari topeng. Dia memperoleh gelar maestro topeng dalam acara Borneo Award ke-4 seniman perintis Tari Topeng Banjar lintas generasi dari Yayasan Mendulang Menuju Dunia Gemilang,” jelasnya.

Penghargaan itu bukti tertulis jika maestro ini telah mendedikasikan hidupnya untuk dunia tari topeng. Semua itu adalah hasil jerih payahnya dalam melestarikan tari topeng Banjar yang ada di Barikin.

Menurut Praktisi Tarian Banjar, Mis Erna Fauziah dalam kesempatan wawancara beberapa tahun silam pernah mengatakan, dalam usia yang sudah renta, nenek Astaliah masih senang mangajarkan gerak-gerak tari topeng kepada tutus juriatnya ataupun bagi siapa saja yang bertanya kepadanya.

“Kehidupan sederhana yang dijalani menjadikan beliau merupakan salah satu tokoh yang hadir dengan kebersahajaan hidup, yang menjadi tokoh perempuan di desa seniman tersebut,” ujarnya.

Masih teringat waktu dulu, lanjut Erna, ketika Taman Budaya akan merevitalisasi gerakan-gerakan topeng, di usia senja meski nenek Astaliah sudah tidak mampu berjalan sendiri apalagi bergerak menari namun ketika mendengar bunyi tabuhan iringan gamelan untuk tari Topeng, mendadak sontak dirinya mampu berdiri perlahan dan menggerakkan tangan lalu menari sambil sesekali tersenyum kecil karena tak mampu lama menahan beban badannya sendiri.

“Semangat perjuangan nenek Astaliah dalam upaya melestarikan dan menjaga keutuhan tari topeng menjadi sebuah bukti betapa kuatnya nilai ketradisian yang dipegang dan ini harus menjadi motivasi bagi kaum muda untuk bisa meneladani spirit yang lama nenek dipertahankan dengan kesederhanaan dan tanpa pamrih,’ ungkap Erna.

Semua pembuktian itu terasa hampa ketika di ujung usia yang semakin lanjut nenek Astaliah belum sukses mewariskan keahlian menari Topeng kepada keturunannya ketika dia memutuskan pensiun total.

Radiah, anak perempuannya yang sejak awal digadang-gadang mewarisi tari tersebut perlahan menolak karena menikah dengan seorang ustad. Sedangkan Wahyuddin, cucu nenek Astaliah lebih menyukai tari kreasi modern dan sudah merantau ke daerah lain.

Kehilangan nenek Astaliah membuat duka bagi jagat tari di Kalsel, terutama berkaitan dengan gerak-gerak klasik Topeng Banjar. Nenek Astaliah adalah guru bagi para orang yang bergelut di dunia tari baik berguru secara langsung ataupun tidak langsung, memiliki dasar-dasar atas gerak tari topeng, semoga saja anak keturunannya ada yang meneruskan perjuangan dalam memperjuangkan dan melestariakan tari topeng. Seperti penari Topeng dari Cirebon Jawa Barat, Rasinah yang menari topeng sejak kecil hingga usia renta dan mewariskan keahlian tari kepada cucunya. Ega

 

Kiriman terbaru

Halaman Terkait

0 Komentar





Validasi

Web Statistik

Total Kunjungan : 1630584
Kunjungan Hari Ini : 29
Online User : 12
Last Update : 28-06-2017

Sodo Muncul Tolak Linu Herbal

Amplang Khas Banjarmasin

Kokyaku Japanese Food

kirim kabar ke : kabar.bc@gmail.com

Gado-Gado Ayomo Banjarmasin

Travel Haji Banjarmasin

[Get This]