Banjarmasin Abad ke-18, Tiap Tahun Didatangi 12 Kapal Jung Tiongkok

Kapal bersandar di Pelabuhan Banjarmasin awal abad ke-20. ANRI

Sejak akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17 Banjarmasin menjadi kota dagang yang amat berarti di Kalimantan Selatan. Perdagangan ke Maluku lewat Makassar makin ramai. Selain orang Indonesia sendiri, juga bangsa Portugis, Tiongkok dan orang-orang dari Asia Barat dan India.

Pelayaran mereka melalui Kalimantan Selatan, sehingga Banjarmasin disinggahi oleh pedagang-pedagang tersebut. Di samping itu juga merupakan akibat berpindahnya route perdagangan ke Maluku yang dahulu lewat Gresik, Bali, Sunda Kecil terus ke Banda dan sekarang melalui Makassar, Banjarmasin terus ke Banten dan India.

Setelah bandar-bandar pantai Pulau Jawa dimusnahkan oleh Raja Mataram Sultan Agung dan perdagangan dipusatkan di Jepara menyebabkan pula orang-orang Jawa menjadikan Banjarmasin ramai karena perpindahan mereka ke Banjarmasin.

Pada masa puncak kemakmurannya yakni pada abad ke-18, tiap tahun rata-rata 12 buah kapal jung Tiongkok datang ke Banjarmasin. Orang Tiongkok merupakan saingan bangsa Eropa dalam perdagangan.

Perdagangan yang amat ramai ini dilakukan oleh bermacam-macam bangsa, antara lain orang Tiongkok, orang Siam, orang Johor, orang Jawa, orang Sunda, orang Palembang, orang Pegu, orang Kedah, orang Melayu, orang Kamboja, orang Bangka, orang Brunai, orang Lingga, orang Maluku, orang banda, orang Timor, orang Madura, orang Jambi, orang MInangkabau, orang Aceh, orang Portugis, orang Inggris, dan orang Belanda.

Mereka yang sering melakukan perdagangan di Banjarmasin, lambat laun akhirnya menetap dan membentuk perkampungan-perkampungan di kota Banjarmasin. Sebagian menyewa rumah karena di Banjarmasin pada masa itu telah ada yang menyewakan rumah-rumah. Tak hanya pedagang, tetapi ada pula yang ingin langsung mencari mata pencaharian di Banjarmasin.

Kapal ikan di Dermaga Perikanan Banjar Raya

Kapal ikan di Dermaga Perikanan Banjar Raya.

Di antara pedagang itu yang terbesar jumlahnya adalah orang Melayu. Mereka membawa perubahan dan kepercayaan Islam. Namun orang Jawa dan Madura tidak sedikit puila jumlahnya. Menurut Broesma (Dr R Broersma, Hande En Bedriijf in Zuid en Oost Borneo, S-Gravenhage: G NAEFF, 1927, hal 15), orang Banjar rajin bekerja dan giat dalam berusaha dan perdagangan. Bin

Sumber: Sejarah Sosial Daerah Kalimantan Selatan. RZ Leirissa, Ramli Nawawi, Tammy Ruslan dan M Soenjata Kartadarmadja.

Kiriman terbaru

Halaman Terkait

2 Komentar





Validasi
  • Dorie14-04-2017 00:03:29 Very descriptive post, I enjoyed that bit. Will there be a part 2?
  • Jacelyn18-03-2017 01:56:43 Hello.This post was extremely interesting, particularly
    since I was investigating for thoughts on this issue last
    Saturday.

Web Statistik

Total Kunjungan : 1630604
Kunjungan Hari Ini : 49
Online User : 5
Last Update : 28-06-2017

Sodo Muncul Tolak Linu Herbal

Amplang Khas Banjarmasin

Kokyaku Japanese Food

kirim kabar ke : kabar.bc@gmail.com

Gado-Gado Ayomo Banjarmasin

Travel Haji Banjarmasin

[Get This]