Banyak Produk Cina Membahayakan

Menteri Perdagangan Rahmat Gobel

Menteri Perdagangan Rahmat Gobel. Foto: merdeka.com

Pemerintah berencana memperkuat standar barang yang beredar dalam negeri, baik berasal dari luar maupun dalam negeri sendiri. Saat ini diakui banyak barang kualitas rendah terutama mainan namun tetap berlogo Standar Nasional Indonesia (SNI).

Menteri Perdagangan, Rahmat Gobel membenarkan banyak barang-barang impor berkualitas rendah masuk ke Indonesia, terutama dari Cina. Tidak tanggung-tanggung, dia menyebut produk tersebut bahkan tidak cocok bagi kesehatan khususnya para anak di bawah umur dan membahayakan.

"Banyak barang (dari Cina) masuk tidak lulus SNI. Kalau dilihat mainan anak dari Cina kena panas hingga 40 derajat lalu menguap sehingga terhirup oleh anak-anak kan mengganggu kesehatan," kata Rahmat di Jakarta, Senin (1/12/2014) malam sebagaimana dilansir merdeka.com.

Rumitnya persoalan tersebut, membuat bekas bos Panasonic itu berencana merevitalisasi laboratorium uji kelayakan terhadap tiap produk khususnya impor. "Semua impor yang masuk ke dalam negeri kita harus punya uji mutunya. Selama ini ada tapi belum lengkap."

Menteri Perindustrian Saleh Husin juga mendorong untuk memperkuat laboratorium standarisasi produk. Menurut dia, meski sudah memiliki laboratorium, namun fungsinya masih kurang maksimal. "Kami rencanakan minggu depan akan membahas hal tersebut," ujar Saleh.

Sementara itu, Direktur Jenderal Standardisasi dan Perlindungan Konsumen (SPK) Kementerian Perdagangan, Widodo menyebut sejauh ini baru terdapat 106 jenis produk mainan berlabel SNI. Dalam waktu dekat akan ada 60 produk lagi yang SNI wajib.

Widodo mengakui masih kesulitan untuk menerapkan SNI wajib untuk mainan terutama barang-barang yang diproduksi Industri Kecil dan Menengah (IKM). Pihaknya juga menyadari bahwa fasilitas alat pengujian standarisasi diperlukan Indonesia.

"Terkait dengan IKM, akan diberi waktu yang lebih panjang karena mungkin bagi industri besar itu mudah, tetapi tidak bagi industri kecil. Sedangkan jika suatu produk diwajibkan untuk SNI, maka itu tidak boleh diskriminasi," ucapnya.

Dirjen Industri Kecil Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Euis Saedah menegaskan bahwa pihaknya telah mendorong terciptanya produk dalam negeri berkualitas. Guna mendorong itu, pihaknya gelontorkan dana sebanyak Rp 2 miliar untuk menciptakan mainan yang ber-SNI.

"Dari sekitar 130 yang kita yang kita sosialisasikan, yang difasilitasi masih di bawah 10 persen. Karena bukan tidak siap, tapi harus disesuaikan," ujar Euis.

Euis juga mengingatkan bahwa label SNI seperti, mainan dan pakaian anak akan ditunda selama enam bulan. "SNI untuk tiga tahun ke bawah harus difokuskan kepada keselamatan, keselamatan dan keamanan," tutupnya. Bin
 

Kiriman terbaru

Halaman Terkait

0 Komentar





Validasi

Web Statistik

Total Kunjungan : 1751187
Kunjungan Hari Ini : 939
Online User : 22
Last Update : 19-08-2017

KukuBima Sido Muncul

Amplang Khas Banjarmasin

Gado-Gado Ayomi

kirim kabar ke : kabar.bc@gmail.com

Travel Haji Banjarmasin

Lowongan Kerja KARIR PADwww.karirpad.com/lowongan/kerja/semuanya

[Get This]