Fatma Dewi Luluh oleh Puisi

Fatma Dewi

Fatma Dewi. Istimewa

Untuk mengambil hati seseorang, koreklah nostalgianya, asal-usul atau hal-hal yang paling berkesan dalam hidupnya, pasti hasilnya tidak mengecewakan. Namun tidak bagi sastrawan muda Kandangan yang satu ini, Fatma Dewi. Untuk mengambil hatinya, bahkan meluluh dan meluruhkannya, cukuplah dengan sebait puisi.

Kada jua pang mun luluh,” ujarnya sedikit membela diri, “cuma taambung narai sikit, hahaha…” Ah, apa bedanya? Buktinya, saat ditanya begitu, matanya berbinar, wajahnya sumringah, dan tawanya renyah, serenyah puisi-puisi yang sudah dituliskannya.

Buktinya lagi, saat disuguhkan dua puisi berikut, Dewi, begitu biasa ia dipanggil, seketika klepek-klepek. Pipinya merona dan senyumnya bergemeletar menahan malu.

ingin aku jadi nyamuk
yang menggit bibirmu
sepanjang malam
dan terkurung
dalam kelambu cintamu
(Aliman Syahrani, Orkestra Kelambu)

di bibirku embun menetes
semanis madu
dan bibirmu adalah kupu-kupu
yang hinggap dan menghisap
(Nabila Chie Aluh Mundat)

Terhadap dua jenis puisi seperti ini, Dewi pun mampu memahaminya tidak dalam makna yang vulgar dan serampangan. Karena baginya, puisi adalah bahasa yang berfungsi sebagai sarana manusia untuk mengekpresikan diri dan mengungkapkan pemikiran atau perasaan kepada orang lain.

Dewi benar. Karena itu, memaknai puisi tidak cukup hanya sebatas tataran rasio tetapi lebih dari itu diperlukan juga perasaan (aposteriori) untuk mendalaminya. Ketika membaca puisi, kita tidak hanya memahami teks tertulis, tetapi harus mampu melampauinya pada apa di balik itu, yaitu dengan menggali makna dan rasa yang terpendam di dasarnya.

Karena itulah pula, saat ditanya lagi kenapa ia menyukai puisi, dalam bahasa Banjar-Kandangan ia menjawab, “Katuju lawan puisi, nya rasa ulun dalam puisi tu ulun kawa maungkapakan perasaan ulun. Tapi kada secara gamblang, mungkin jua kisah handak berbelit-belit, ada jua rasa handak minta tangguh, hehe...”

Tentu jawaban Dewi bukan karena ia sekadar ingin sok-sokan, gagah-gagahan, disebut penyair atau semacamnya. Jikapun ada sedikit rasa bangga, itu wajar. Hal yang pastinya juga pernah dialami oleh semua sastrawan pemula. Selebihnya, itu adalah ungkapan ketertarikan dan kecintaannya terhadap puisi sesuai takaran usianya yang masih sangat muda.

Kecintaan Dewi terhadap puisi dan seni sendiri tidak tumbuh secara tiba-tiba atau tanpa latar belakang yang cukup berliku. Dalam catatan saya sepanjang mengenalnya sejak usia SMP dan terlibat dalam sejumlah kegiatan sastra, keikutsertaan Dewi di dunia sastra dan seni di Hulu Sungai Selatan dan Kalimatan Selatan terbilang cukup banyak, bahkan ia pernah meraih sejumlah prestasi sejak usia Sekolah Dasar.

Di antaranya, ia pernah meraih juara I lomba bakisah bahasa Banjar tingkat SLTA se-Kabupaten Hulu Sungai Selatan, yang diselenggarakan oleh Perpustakaan dan Arsip Daerah Hulu Sungai Selatan tahun 2012, juara III lomba bakisah bahasa Banjar tingkat provinsi Kaliman Selatan (Perpustakaan Daerah Kalimatan Selatan tahun 2012), juara I bakisah bahasa Banjar tingkat SLTA se-Kabupaten Hulu Sungai Selatan (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Hulu Sungai Selatan tahun 2013), dan seabrek prestasi lainnya. Dewi juga sempat aktif di kegiatan menari dan main teater.

Karyanya berupa puisi turut dibukukan dalam Membuka Cakrawala Meyentuh Fitrah Manusia, Antologi Puisi Aruh Sastra Kalimantan Selatan XI, Kabupaten Tapin (2014). Tahun 2013 ia mengikuti Aruh Sastra Kalimantan Selatan X di kota Banjarbaru.

Fatma Dewi lahir di Kandangan tanggal 18 Mei 1995. Setelah tamat di SDN Kandangan Kota 2, ia melanjutkan ke SMPN 3 Kandangan, kemudian bersekolah di SMAN 1 Kandangan dan lulus tahun 2013. Saat ini ia tinggal di Martapura karena tengah menempuh studi Diploma IV di Keperawatan Gigi Politkenik Negeri Banjarmasin untuk mewujudkan cita-citanya menjadi perawat gigi profesional.

Dewi yang selalu menempati ranking teratas sejak di bangku sekolah dasar hingga SLTA ini mulai menggemari sastra dan seni pada umumnya sejak usia sekolah dasar. Selain menulis puisi, kini ia juga mulai merambah ke penulisan cerpen.

Usia Dewi masih muda, begitu pula usia ungkaranya di dunia sastra, pun usia proses kreatif yang bisa dilinjanginya. Tidak hanya itu, secara alamiah Dewi akan ditimba pula untuk selalu mengembangkan karya-karyanya, baik secara kuantitas maupun kualitas. Bahkan, ia juga akan dikenangkan di tiap buhul waktu, apakah ikhtiarnya di jagat sastra tidak seumpama liang tanpa nisan, tanpa ada tangan yang sudi menjulur menjemba, meski sekadar di luar jamah. Apakah karya-karyanya akan terus sanggup berkanjangria di jenggala sastra, tidaklah sekadar seperti sekumpulan batu mati, punya bakti tapi tanpa pola kreasi.

Namun konon, ada semacam sabda di marcapada, bahwa siapa saja yang hatinya pernah luluh oleh puisi, selamalamalamalamalamalamanya akan dirajam makna. Hari-harinya akan suntuk tanpa sendawa lirik-lirik puisi. Dan setiap kali bersua puisi, nuraninya seketika bingkas bak dua hati berpadu dalam kelambu cinta yang bergemeletar menahan malu.

* * *

Fatma Dewi
Ibu

terperanjat aku di sudut malam
kala itu cahaya lenyap, hilang, teramat gelap
ke mana kaki menuju pun hati bingung
menjerit, namun tertahan malu

samar-samar kulihat seberkas sinar
rasa bahagia tiba-tiba menyegarkanku
apa ataukah siapa gerangan

semakin dekat kian jelas rupanya
namun kelubut sinar itu menutup wajahnya
matanya terpancar cahaya menyejukkan
tangannya menyentuh pipi ini kurasa

oh Tuhan
aku baru menyadari siapa dia
kupeluk wanita ini dengan rasa tak akan dilepas
ibu, harta karun yang tak kusadari

Fatma Dewi
Ayah

kata orang tak tahu malu
saat pria berlumpur keringat mendekapku
siapa dia
ayahku, lantangku berujar

waktu menggerogoti
dayanya lenyap
kursi tua berayap
tahtanya kini lembaran suci
menggantikan memori

ayah...
kumohon bertahanlah
hingga kubawa toga pulang
mempersembahkan kunci gubukku
melegakanmu dengan ikrar sakral
mengganti setetes keringatmu setidaknya

biarkan aku menyeka tubuhmu
membuangkan kotormu
kan kubeli hinaan-hinaan itu

betapa kuingin kau tahu
teriakan hatiku
kelunya lidahku
saatku memandangmu
: aku mencintaimu

Aliman Syahrani.  “Membuka Cakrawala Meyentuh Fitrah Manusia,” Antologi Puisi Aruh Sastra Kalimantan Selatan XI, Kabupaten Tapin, 2014.
 

Kiriman terbaru

Halaman Terkait

2 Komentar





Validasi
  • Lorri30-07-2017 20:56:46 Magnificent goods from you, man. I have understand your stuff previous to and you are just too
    great. I really like what you have acquired here, certainly
    like what you are stating and the way in which you say it.
    You make it entertaining and you still take care of to
    keep it smart. I cant wait to read much more from you.

    This is really a terrific site.
  • Tyler14-04-2017 00:32:37 Asking questions are genuinely pleasant thing
    if you are not understanding something completely, but this post provides
    fastidious understanding yet.

Web Statistik

Total Kunjungan : 1759906
Kunjungan Hari Ini : 1497
Online User : 8
Last Update : 22-08-2017

KukuBima Sido Muncul

Amplang Khas Banjarmasin

Gado-Gado Ayomi

kirim kabar ke : kabar.bc@gmail.com

Travel Haji Banjarmasin

Lowongan Kerja KARIR PADwww.karirpad.com/lowongan/kerja/semuanya

[Get This]