Kapan Tengkorak Kepala Demang Lehman Dikembalikan ke Kalimantan?

Demang Lehman

Demang Lehman.

Kalau orang sekarang mengucapkan nama Demang Lehman, maka pasti merujuk kepada Stadion Sepak Bola markas (sementara) klub Barito Putra yang bertempat di Martapura, Kalimantan Selatan. Karena itulah, para pendukung Barito Putra menamakan diri organisasi supporter klub kebanggaannya dengan nama Askar Demang Lehman.

Kisah penangkapan pejuang Perang Banjar Demang Lehman oleh Belanda menginspirasi seniman Adjim Arijadi untuk membuat drama berjudul Pewaris Haram Manyarah. Karya drama ini ditampilkan dalam pergelaran Pengembangan Ruang Kreatif 2014 dan Ulang Tahun ke-47 Sanggar Budaya Kalsel di Balairungsari Taman Budaya Kalsel, Jumat (7/11/2014). Semangat Haram Manyarah Waja Sampai Kaputing dikobarkan Pangeran Antasari di masa Perang Banjar melawan penjajah Belanda.

Sebetulnya kisah perjuangan Demang Lehman patut diangkat ke layar lebar, sebab selain untuk memupuk jiwa patriotis bangsa kita, perjuangan Demang Lehman sangat heroik dan sangatlah filmis dengan pemandangan Kalimantan yang memesona. Di situ juga dimasukkan unsur adat, agama, budaya, dan filsafat yang dijunjung tinggi rakyat Kalimantan. Saya perkirakan, filmnya tidak akan kalah dengan film Tjoet Njak Dhien, asal dibuat dengan professional.

Demang Lehman digantung
Pada akhir perjuangannya, Demang Lehman yang merasa kecewa dengan tipu muslihat Belanda berusaha mengatur kekuatan kembali di daerah Gunung Pangkal, negeri Batulicin, Tanah Bumbu. Waktu itu ia bersama Tumenggung Aria Pati bersembunyi di gua Gunung Pangkal dan hanya memakan daun-daunan.

Oleh seorang yang bernama Pembarani diajak menginap di rumahnya. Karena tergiur imbalan gulden dari Belanda, Pembarani bekerjasama dengan Syarif Hamid, seorang keturunan Arab, dan anak buahnya yang sudah menyusuri Gunung Lintang dan Gunung Panjang untuk mencari Demang Lehman atas perintah Belanda.

Demang Lehman tidak mengetahui bahwa Belanda sedang mengatur perangkap terhadapnya. Oleh orang yang menginginkan hadiah dan tanda jasa sehabis dia melakukan salat Subuh dan dalam keadaan tidak bersenjata, dia ditangkap. Ia sempat sendirian melawan puluhan orang yang mengepungnya. Atas keberhasilan penangkapan ini Syarif Hamid akan diangkat sebagai raja tetap di Batulicin. Kemudian Demang Lehman diangkut ke Martapura.

Pemerintah Belanda menetapkan hukuman gantung terhadap pejuang yang tidak kenal kompromi ini. Dia menjalani hukuman gantung sampai mati di Martapura, sebagai pelaksanaan keputusan Pengadilan Militer Belanda tanggal 27 Februari 1864.

Pejabat-pejabat militer Belanda yang menyaksikan hukuman gantung ini merasa kagum dengan ketabahannya menaiki tiang gantungan tanpa ditutup mata. Urat mukanya tidak berubah menunjukkan ketabahan yang luar biasa.

Tiada ada satu keluarganyapun yang menyaksikan Demang Lehman digantung dan tidak ada keluarga yang menyambut mayatnya. Setelah selesai digantung dan mati, kepalanya dipotong oleh Belanda dan dibawa oleh Konservator Rijksmuseum van Volkenkunde Leiden. Kepala Demang Lehman disimpan di Museum Leiden di Negeri Belanda, sehingga mayatnya dimakamkan tanpa kepala.

Wasiat Demang Lehman:
Dangar-dangar barataan! Banua Banjar lamun kahada lakas dipalas lawan banyu mata darah, marikit dipingkuti Walanda.

Orang-orang yang tidak mendapat pengampunan dari pemerintah Kolonial Hindia Belanda:  Antasari dengan anak-anaknya, Demang Lehman, Amin Oellah, Soero Patty dengan anak-anaknya, Kiai Djaya Lalana,  Goseti Kassan dengan anak-anaknya.

Rekan-rekan seperjuangan Demang Lehman: Kiai Derma Wijaya – Matarip, Kiai Raksa Wati – Kariamudin, Kiai Mas Cakra Yuda – Luka, Kiai Puspa Yuda Negara - Tuan Konter, Gusti Pelanduk putera Pangeran Amir, Pambakal Awang, Kiai Jaya Surna – Dimun, Kiai Setro Wijaya, Kiai Derma Yuda - Lurah Aman, Kiai Muda Kencana – Bakusin, Pangeran Ali Basyah (Gusti Isa), Kiai Guma Wijaya – Arbain, Kiai Surung Rana – Sahibul, Pambakal Noto, Kiai Pati Jaya Kasuma – Sanim,  Kiai Derma Lelana – Ajudin, Kiai Yuda Wijaya – Garsema, Kiai Wira Yuda – Durahman, Pambakal Unus, Tumenggung Gamar alias Tumenggung Cakra Yuda, Tuan Saaban, Kiai Wira Karsa, Kiai Jaya Pati, Andin Ahmad, Tumenggung Ali Akbar, Mangun Yuda, Kiai Singa Pati - Tagap Wajir,  Kiai Guru Perang - Tabib Keyan, Jaya Wanton - Tagap Guntol, Kiai Puspa Wira Yuda – Acil, Kiai Rumi Jaya – Jamidinm, Haji Muhammad Yasin, Pambakal Ulak, Haji Buyasin. Saiful Bahri
 

Kiriman terbaru

Halaman Terkait

2 Komentar





Validasi
  • Estelle31-07-2017 08:24:49 I love what you guys are usually up too. This sort of clever work and reporting!

    Keep up the great works guys I've you guys to my own blogroll.
  • Tory14-04-2017 01:07:46 What's Going down i am new to this, I stumbled upon this I've discovered It absolutely useful and it has helped me out loads.
    I'm hoping to contribute & aid different users like its helped me.
    Good job.

Web Statistik

Total Kunjungan : 1751196
Kunjungan Hari Ini : 945
Online User : 6
Last Update : 19-08-2017

KukuBima Sido Muncul

Amplang Khas Banjarmasin

Gado-Gado Ayomi

kirim kabar ke : kabar.bc@gmail.com

Travel Haji Banjarmasin

Lowongan Kerja KARIR PADwww.karirpad.com/lowongan/kerja/semuanya

[Get This]