Kisah Dracula, The Strain, Asal Usul Vampir

Vampir Dracula

Vampir petani dalam cerita rakyat Eropa Timur merupakan sosok mayat lamban.

Sebuah serial TV The Strain menampilkan wabah mahluk supernatural yang memikat perhatian pemirsa televisi setelah Dracula. Tetapi kisah vampir sudah muncul jauh sebelum Bram Stoker mencipta Dracula, tulis Roger Luckhurst.

Musim pertama serial TV AS The Strain yang diakhiri dengan The Master, menjadi sumber infeksi vampir di New York, dan salah satu dari vampir tertua, kembali lolos dari tokoh pahlawan manusia. Dan dia melakukannya dengan berlari cepat dari atap ke atap bangunan lain di siang bolong- sesuatu yang dalam tradisinya tak akan pernah bisa dilakukan para pengisap darah itu.

The Strain yang dibuat berdasarkan novel kolaboratif penulis naskah Chuck Hogan dan sutradara film horor serta fiksi ilmiah Guillermo del Toro ini, memang melakukan pembaharuan dan penukikan dibanding kisah Bram Stoker's Dracula.

Kita tak disuguhi adegan Count Dracula yang datang melalui sebuah 'kapal hantu', melainkan sebuah pesawat dipenuhi dengan korban-korban wabah yang (belum) meninggal di New York.

Jika Dracula tinggal di Piccadilly, yang hanya berjarak selemparan batu dari Istana Buckingham, The Master bersarang di terowongan tua di bawah Freedom Tower di New York.

Dalam kisah Stoker ada pemburu vampir bernama Van Helsing, sementara The Master memiliki Abraham Setrakian yang pertama kali berhadapan dengan The Master di dalam kamp konsentrasi di Auschwitz pada 1944.

Dalam kisah Stoker; ada sekawanan umat Kristen yang menghalau si iblis dari Imperium Inggris, sementara di sini yang tampil adalah sekelompok imigran di New York yang merasa resah - keturunan Ukraina, Yahudi dan Hispanik, laki-laki dan perempuan.

The Strain merupakan mutasi terbaru dari formula vampir yang diperkenalkan oleh Bram Stroker dalam Dracula, yang muncul pertama kali dalam peringatan 60 tahun kekuasaan Ratu Victoria pada 1897.

Adaptasi pertama yang terkenal dari kisah Dracula Bram Strocker yaitu film horor Nosferatu (1922) maha karya dari FW Murnau. Kemunculan film ini membuat Janda Stoker menuntut studio pembuat film untuk pelanggaran hak cipta.

Tetapi Dracula bukan satu-satunya sumber dari mitos tentang vampir.

The Strain berutang banyak terhadap sebuah tradisi yang lebih tua dari kisah vampir di Barat jauh ke masa 150 tahun lampau.

Kata 'vampyre' pertama muncul dalam bahasa Inggris dalam London Journalin Maret 1732. Kata yang janggal ini diambil langsung dari sebuah laporan mengenai insiden aneh yang terjadi di sebuah tempat terpencil di kekaisaran Hapsburg.

Di Medreyga ,sebuah desa di Hungaria, terjadi keributan dikalangan petani yang menuntut penggalian kuburan Arnold Paul, tetangga mereka yang baru saja meninggal. Permintaan itu disampaikan satu bulan setelah Paul meninggal dan dimakamkan.

Kepada pihak berwenang, para petani menyatakan bahwa mayat Paul mencelakakan mereka dan menyebabkan ternak mereka hilang di malam hari. Kata yang mereka gunakan untuk menggambarkan mahluk ini yaitu "vampyre".

Ketika kuburan digali, disaksikan perwakilan Hpemerintah Hapsburg, disebutkan bahwa tubuh Arnold Paul tampak sepenuhnya segar dan utuh, dengan perut kembung dengan darah segar yang tampak mengalir dari mulut.

Para petani memaku jasad di kuburan itu dengan kayu tepat di jantungnya dan kemudian membakarnya, untuk memastikan Paul telah tewas.

Beberapa tahun kemudian, seorang biarawan Benedictine, Augustin Calmet mengumpulkan kisah yang serupa dalam sebuah buku dengan judul Concerning the Vampires of Hungary, Bohemia, Moravia and Silesia.

Dari wilayah-wilayah pinggiran ini vampir muncul.

Mau sedikit gigitan?

Kisah-kisah vampir di abad 18 kebanyakan diarahkan untuk memperolok takhayul yang dipercaya oleh para petani yang bodoh. Ini untuk meneguhkan sebuah budaya metropolitan yang canggih.

Narasi ini disebarluaskan dalam koran-koran dan majalah, bahwa London, Paris atau Wina telah mengatasi tirani kepercayaan abad pertengahan.

Kota-kota itu penuh dengan warga yang tercerahkan dan tidak lagi percaya dengan cerita takhayul.

Voltaire mengira kebiasaan konyol untuk menghibur diri dengan kisah-kisah itu telah usai. Betapa kelirunya ia.

Di Paris, filosof rasional Voltaire memulai pembahasan tentang vampir pada karyanya di tahun 1762, Kamus Filosofi dengan: “Apa? Apakah di abad ke 18 ini vampir masih ada?"

Dengan yakin dia memperkirakan bahwa meskipun Eropa Barat "telah terinfeksi dengan vampir selama lima atau enam tahun," "sekarang mereka tidak ada lagi."

"Kebiasaan konyol untuk menghibur dengan cerita gaib ini telah usai.

Kebiasaan konyol untuk menghibur diri dengan kisah-kisah itu telah usai. Betapa kelirunya ia.

Kisah Vampir

Kisah vampir sudah muncul di abad 18. Corbis

Vampir petani dalam cerita-cerita rakyat Eropa Timur waktu itu merupakan sosok mayat lamban yang menganggu kedamaian tetapi sangat mudah untuk dimusnahkan.

Sosok vampir aristokrat yang korup dan penggoda, muncul tahun 1819 melalui sebuah cerita pendek karya William Polidori yang dipublikasikan dengan sensasi besar-besaran di media Inggris.

Lord Ruthven adalah nama tokoh The Vampyre, iblis buncit yang penuh berahi yang memangsa perempuan muda, dan lebih menakutkan lagi karena dia melakukannya di klub-klub yang paling ekslusif.

Kisah vampir ini telah beranjak dari cerita rakyat kaum tani, untuk membaur dengan gambaran melodrama kaum arikstokrat bermoral longgar.

Lord Byron mempublikasikan cerita pendek The Vampyre pada 1819 dari kisah yang diceritakan dokter pribadinya William Polidori. Kisah itu mendapat bumbu tambahan dari kenyataan bahwa William Polidori pernah ditunjukan sebagai dokter pribadi bagi aristokrat paling aib di Inggris, Lord Byron. Penyair legendaris itu sampai dihalau ke luar Inggris karena kehidupan seksnya yang penuh skandal.

Selama dalam pengasingan Lord Byron, Polidori muncul di sebuah pesta malam hari yang sangat terkenal di Villa Diodati yang terletak dekat Danau Jenewa pada 1816 ketika Byron dan tamunya Percy dan Mary Shelley saling bercerita tentang kisah-kisah hantu.

Sastra vampir lahir bersamaan dengan monster Baron Frankenstein. Tak berapa lama setelah acara tersebut, Byron dengan cepat memecat dokternya.

Vampir adalah iblis yang berkasi melalui seks dan uang, selain dengan gigitannya.

Orang banyak melihat suatu kecocokan antara sosok Vampyre dengan Byron. Bahkan sempat muncul gunjingan, saat Vampyre masih dipublikasikan secara anonim, bahwa tokoh itu merupakan potret Byron, atau bahkan pengakuan sang bangsawan sendiri.

Dan jika Polidori ingin membalas dendam kepada bosnya dengan cerita ini, justru dampanya sebaliknya. Cerita ini justru meningkatkan penjualan karya-karya Byron. The Vampyre dicetak berulang-ulang dan tersebar secara dramatis ke seluruh Eropa, tetapi seringkali tanpa mencantumkan kredit untuk Polidori. Dokter itu tak lama kemudian meninggal dunia -sebagai penulis yang gagal.

Gairah yang manis

Kisah tentang sosok vampir yang digambarkan sebagai setan yang beraksi melalui seks dan uang dan juga gigitannya, tak pernah benar-benar hilang.

Visi inilah yang menginspirasi sebuah serial yang disiarkan cukup lama pada 1840an, Varney the Vampire, atau The Feast of Blood. Di situ berbagai hal diracik untuk memasukkan tokoh perempuan aristokrat yang berendam di darah gadis-gadis perawan untuk mendapatkan kemudaan abadi.

Versi sastra yang terkenal dari kisah ini adalah cerita pendek karya Sheridan Le Fanu yang berjudul Carmilla dari tahun 1872, narasi yang meluncurkan fantasi-fantasi tentang vampir lesbian. Le Fanu inilah redaktur koran yang memberikan pekerjaan penulis kepada Bram Stoker untuk pertama kalinya.

Versi pertama dari Dracula mengambil latar di Styria Austria, lokasi yang juga menjadi latar cerita Camilla karya Le Fanu.

Dalam The Strain, dikisahkan bahwa vampir menghantui pusat kekuasaan dunia. Ratusan tahun yang lalu vampir menguasai imperium di London: sekarang pusat kekuasaan finasial dan politik, New York, dan invasi The Master dibantu oleh Stoneheart Corporation, yang dijalankan oleh seorang eksekutif Wall Street yang memimpikan kehidupan abadi.

Tak lama setelah vampyre masuk dalam bacaan bahasa Inggris, vampir memang menjadi perumpamaan bagi para bankir dan rentenir "penghisap darah" di kota London. The Strain juga mengambil dari tradisi itu.

Film seri ini jelas terkait dengan genre ‘zombie apocalypse.’ Di sesi pertama digambarkan awal dari penyebaran penyakit secara perlahan, yang merupakan penularan supranatural dalam versi ilmiah: New York berubah menjadi lokasi kerusuhan dan huru-hara, mayat-mayat hidup berkeliaran di got-got dan melakukan pembunuhan terbuka di jalanan.

Di sebuah negara yang sedang dicekam masalah rasial dan kekhawatiran terkait ketidaksetaraan ekonomi yang makin tajam, sangat jelas bahwa para pembuat The Strain sengaja menitik berastkan kecemasan apokaliptik ini.

Jika ada kekhawatiran bahwa serial ini kadang-kadang menggunakan gambaran tentang penyerbuan orang-orang yang dianggap hina - yang juga berangkat dari tradisi yang menyudutkan kelompok imigran miskin, The Strain juga memajang pahlawan-pahlawan dari sekawanan tokoh multikultural yang menjadi pahlawan dengan visi untuk memulihkan Amerika sebagai suatu melting plot.

Visi ini, sebuah kelompok yang terdiri dari individu-individu yang berbeda bersatu untuk mengatasi musuh dan berhasil juga terdapat dalam cerita-cerita vampir dua ratusan tahun lalu. Mungkin itu sebabnya kisah tentang vampir selalu bertahan - dalam bayangan yang menakutkan bahwa di mana ada para penghisap darah akan muncul malapetaka, tapi juga harapan. Roger Luckhurst/BBC

Kiriman terbaru

Halaman Terkait

1 Komentar





Validasi
  • Adan13-04-2017 23:39:49 Aw, this was a really nice post. Finding the time and
    actual effort to produce a very good article… but what can I say… I put
    things off a whole lot and don't seem to get nearly anything done.

Web Statistik

Total Kunjungan : 1623236
Kunjungan Hari Ini : 844
Online User : 26
Last Update : 25-06-2017

Sodo Muncul Tolak Linu Herbal

Amplang Khas Banjarmasin

Kokyaku Japanese Food

kirim kabar ke : kabar.bc@gmail.com

Gado-Gado Ayomo Banjarmasin

Travel Haji Banjarmasin

[Get This]