Krisis Daging Sapi: Siapa Bermain?

pedagang daging sapi mogok jualan

Sejumlah pedagang daging sapi di Los Daging, Pasar Rumput, mogok jualan selama empat hari.

Para pedagang daging sapi di pasar-pasar tradisional di beberapa kota, melancarkan aksi mogok jualan, dan kalangan pedagang menduga ada yang bermain di balik tingginya harga daging sapi.

Sudah sejak hari Minggu (9/8/2015), los daging sapi di lantai dua Pasar Rumput, Jakarta menampakkan suasana berbeda: lengang, senyap, kosong.

Gantungan pengait dan meja-meja tempat berdagang yang terbuat dari keramik putih mengkilap, yang biasanya penuh dengan noda merah dan onggokan daging, tampak melompong, Tak tampak sepotong daging pun di atasnya.

Yang tampak, di sebuah deretan lapak pedangang, adalah sejumlah poster yang bergantungan, dengan tulisan tangan. Antara lain berbunyi "Bersihkan kutu pemakan daging," "Ganti Menteri Pertanian dan Ekonomi," "Harga-harga selangit, rakyat menjerit," bahkan yang langsung tertuju ke Presiden Jokowi: "Pak Jokowi, kami ini pendukungmu, tolong lirik nasib kami."

Sebagian pedagang tampak tidur-turan di atas lapak. Sebagian membersihkan dan mencuci beberapa bagian los daging. Ada pula yang sedang memasak nasi liwet, "untuk makan siang kami hari ini," kata seorang pedagang.

Beberapa ekor tikus berseliweran di lantai dengan leluasa.

Tidak normal

"Kami memutuskan untuk rehat dulu selama empat hari, sampai hari Rabu (12/8/2015), tidak berdagang," kata Dedi Mulyadi, mewakili 50-an pedagang daging pasar tradisional Pasar Rumput, "karena situasinya tidak normal."

"Biasanya, harga daging memang naik saat menjelang lebaran, namun kembali turun hingga ke harga sebelumnya, sesudah lebaran. Sekarang tidak: harga yang harus kami bayar ke pemasok sama dengan harga saat lebaran, tidak kunjung turun," tambah Dedi lagi.

Disebutkannya, sebelum lebaran, sebagai pengecer mereka bisa menjual ke pembeli dengan harga sekitar Rp85.000 hingga Rp90.000 per kilogram. Sekarang para pedagang hanya bisa menarik keuntungan yang wajar jika menjual di harga Rp120.000, bahkan hingga Rp130.00 per kilogram. Persis seperti harga menjelang lebaran.

"Ini berat untuk pembeli, berat pula untuk kami penjual," tambahnya pula.

"Kami tidak tahu lagi bagaimana jalan keluarnya, ya kami mogok saja."

Dan ternyata aksi itu berlangsung hampir di seluruh pasar tradisional di Jakarta, Bandung, dan Bogor, serta beberapa kota lain.

Dedi menyebutkan, mereka sekarang menunggu pemerintah turun tangan menstabilkan harga daging sapi. Namun jika Rabu (12/8/2015) harga tak turun juga, ia mengaku tak tahu apa yang akan mereka lakukan.

Warung padang tanpa rendang

Beberapa belas meter dari los daging, di bagian lain pasar rumput, sejumlah warung makanan mengungkapkan dampak langsung yang mereka alami.

"Saya tak bisa lagi jual rendang, padahal ini warung masakan padang," kata Ira, pemilik Warung Padang "Muaro," di Pasar Rumput.

Hal sama dikeluhkan Didin, pemilik warung makanan sunda tetangganya. "Ya, kami jadinya mengandalkan ikan, ayam, sayur dan telur saja," katanya.

Adapun Bayu, pemilik warung baso "I One" alias "Iwan," mengaku sudah mengantisipasi keadaan. "Saya sudah dengar akan ada pemogokan ini, jadi beli daging sapi di hari Sabtu lalu itu sekalian untuk persediaan empat hari. Soalnya kalau tidak, aneh juga di sini ditulis Jual Baso Daging Sapi dan Ayam kalau cuma bisa jual baso ayam."

Ketua Umum Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia, APPSINDO, Hasan Basri, mencurigai banyak pihak yang bermain dalam kisruh daging sapi ini.

"Di satu sisi, ada para peternak sapi yang menahan ternak mereka untuk dilepas nanti saat Idul Adha, biar harganya tinggi," kata Hasan Basri.

Idul Adha tahun ini jatuh pada 24 September 2015.

"Di sisi lain, para pemain di dunia bisnis daging sapi ini yang bermain untuk membuat harga jadi terus tinggi, dan tidak turun sesudah Idul Fitri kemarin."

"Hal lain juga, impor daging kan dibatasi, yang dulu dianggap bisa mematikan peternakan sapi lokal," kata Hasan Basri lagi.

Keran impor

Pada kuartal ketiga tahun 2015, pemerintah hanya mengimpor 50.000 ekor sapi dari Australia, dan sebagiannya tiba di pelabuhan Tanjung Priok hari Senin (10/8/2015).

Jumlah hanya seperlima dari impor kuartal kedua 2015, sejumlah 250.000 ekor.

Menjelang lebaran pertengahan Juli lalu, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan dari Kementerian Pertanian, Muladno, mengatakan kepada BBC, bahwa pengurangan impor sudah dipertimbangkan masak-masak.

Dalam perhitungannya di perusahaan-perusahaan penggemukan sapi di Indonesia, terdapat 221.000 ekor sapi. "Kalau perhitungannya sebulan 45.000, itu masih cukup untuk sampai lima bulan ke depan," kata Muladno saat itu.

Namun belum sebulan, krisis daging sapi terjadi.

Menko Perekonomian Sofyan Djalil mengatakan kepada wartawan, pemerintah mengambil langkah cepat untuk mengatasi masalah ini melalui operasi pasar yang dilakukan Bulog di sejumlah pasar.

"Bulog sudah melakukan intervensi pasar untuk mengatasi kelangkaan pasokan (daging sapi) di pasar hari ini," kata Sofyan Djalil.

"Itu (solusi) jangka pendek sekali. Tapi untuk jangka menengah dan jangka panjang, kita harus bereskan supply- (pasokan)nya."

Stok cukup?

Wakil Presiden Jusuf Kalla melontarkan pandangan senada. "Ini masalah suplai (pasokan)," katanya, Senin siang, kepada wartawan.

Namun dalam kesempatan terpisah, Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengaku bahwa pasokan daging sapi cukup untuk empat bulan ke depan.

"Kami sudah mengecek (ke) lapangan, sudah berdiskusi dengan pemilik peternakan, ternyata masih ada stok yang menurut perhitungan kami dan Kementerian Perdagangan itu cukup untuk empat bulan," katanya seperti dikutip kantor berita Antara.

Menurut Amran, "sekarang ini perkiraan terakhir jumlahnya sekitar 160.000 ekor sapi, itu cukup untuk empat bulan dengan hitungan 40.000 ekor sapi setiap bulannya."

Sementara Menteri Perdagangan Rachmat Gobel, dikutip Antara mengatakan bahwa impor akan dibuka lagi jika stok di tempat penggemukan telah didistribusikan untuk dijual di pasar.

Pernyataan yang berbeda-beda antar pejabat, menimbulkan kebingungan, lebih-lebih kenyataan di lapangan berbeda -harga daging sapi sangat tinggi dan pedaganga di berbagai kota sampai mogok berjualan. BBC

Kiriman terbaru

Halaman Terkait

1 Komentar





Validasi
  • Tosha31-07-2017 13:20:39 This is my first time pay a visit at here and i am genuinely impressed to read everthing at alone place.

Web Statistik

Total Kunjungan : 3409487
Kunjungan Hari Ini : 2134
Online User : 26
Last Update : 21-10-2018

Amplang Khas Banjarmasin

Gado-Gado Ayomi

kirim kabar ke : kabar.bc@gmail.com

Lowongan Kerja KARIR PAD

[Get This]