Menelusuri Jejak Sejarah Kota Banjarmasin (3)

sungai kuin kota banjarmasin

Tempat sandar kapal asing. kabarbanjarmasin.com/Yudi Yusmili 

Penulis: Yudi Yusmili

SAAT pengakuan kekuasaan keponakannya, Pangeran Samudera sebagai raja sah di Negara Dipa, Pangeran Tumenggung juga menyerahkan seperangkat isi perbendaharaan istana dan simbol-simbol kerajaannya.

Namun Pangeran Samudera telah menetapkan Kuin di Banjar sebagai pusat kerajaan baru. Sebagian besar rakyat Negara Daha pun ikut hijrah bersama raja baru ke Banjar. Kepada Pangeran Tumenggung diberi wilayah kekuasaan daerah Batang Amandit dan Batang Alai.

Dengan perpindahan warga Negara Daha tersebut kampung Banjar di muara Sungai Kuin pun menjadi makin ramai penduduknya. Kampung Banjar yang kian ramai karena aktivitas perdagangan ini dikenal dengan nama Banjarmasih. Banjar berarti kampung, sedang Masih berarti Melayu, sebutan orang Suku Dayak Ngaju untuk menyebut masyarakat Melayu.

Aktivitas perdagangan di bandar (Bandarmasih) ini diawasi oleh Patih Masih, selaku kepala suku orang Melayu. Hubungan yang semula hanya dengan pedagang dari berbagai daerah dan suku di sekitarnya bahkan kemudian berkembang menjadi hubungan dagang antar negara. Kegiatan Bandarmasih di Banjarmasih dipenuhi kapal-kapal dagang Jawa, Palembang, Bugis, Cina, Arab, India. Belakangan kapal-kapal dagang Belanda dan Inggris bersaing mengincar dan memuat hasil kekayaan alam Kalimantan.

Bahkan saat penobatan Pangeran Samudera sebagai raja Banjar, gelar Sultan Suriansyah diberikan oleh seorang ulama bangsa Arab yang datang dari Tanah Arab.

Sepeninggal Sultan Suriansyah (Panembahan Batu Habang), wafat diperkirakan tahun 1546/1550, putranya yang bergelar Sultan Rahmatullah menggantikannya sebagai raja Banjar ke-2. Sultan Rahmatullah (Panembahan Batu Putih) kemudian digantikan oleh putranya yang bergelar Sultan Hidayatullah, sebagai raja Banjar ke-3.

Pada masa kekuasaan Sultan ke-3 yang dikenal juga dengan gelar Panembahan Batu Hirang inilah datang seorang mubalig dari Gujarat bernama Syekh Abdul Malik.

“Syekh Abdul Malik atau Haji Batu hidup pada zaman Sultan Hidayatullah. Beliau pendatang dari Gujarat, pernah tinggal di Aceh, nisan makannya pun dari berbeda sendiri karena didatangkan dari Aceh,” kata Pengurus Kompleks Makam Sultan Suriansyah, H Burhan.

Seperti ayah dan kakeknya, Sultan Rahmatullah dan Sultan Hidayatullah bermakam di Kuin Utara, beberapa meter dari pusara Sultan Suriansyah. Di kompleks makam kerajaan ini berkubur pula beberapa kerabat dekat kerajaan Banjar.

Tepat di samping kanan pusara Sultan Suriansyah terdapat makam salah satu keturunannya, Pangeran Adipati Anta Kasuma, pendiri kraton Kotawaringin, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Di sebelah kanannya lagi berbaris makam Pangeran Ahmad, Pangeran Muhammad, Sayid Muhammad dan Gusti Muhammad Arsyad, pelaku sejarah Perang Banjar (1859-1905) yang juga merupakan cucu Pahlawan Nasional Pangeran Antasari. Aly (bersambung)

Kiriman terbaru

Halaman Terkait

1 Komentar





Validasi
  • Raul13-04-2017 23:45:05 Hey there! This is my first visit to your blog! We are a collection of volunteers and starting
    a new initiative in a community in the same niche.

    Your blog provided us valuable information to work on. You
    have done a marvellous job!

Web Statistik

Total Kunjungan : 1622875
Kunjungan Hari Ini : 651
Online User : 16
Last Update : 25-06-2017

Sodo Muncul Tolak Linu Herbal

Amplang Khas Banjarmasin

Kokyaku Japanese Food

kirim kabar ke : kabar.bc@gmail.com

Gado-Gado Ayomo Banjarmasin

Travel Haji Banjarmasin

[Get This]