Menelusuri Jejak Sejarah Kota Banjarmasin

kota banjarmasin

Di Alalak Dua Pangeran Bertempur. Kabarbanjarmasin.com/Yudi Yusmili

Penulis: Yudi Yusmili

UJUNG Pulau Alalak pada suatu masa pernah menjadi medan pertumpahan darah yang memakan banyak korban. Kampung Alalak adalah salah satu kampung kuno di Banjarmasin. Pernah dikenal dengan nama Alalak Besar, pemekaran administrasi pemerintahan daerah pada masa kini membuat Alalak terbagi lagi menjadi Alalak Utara, Alalak Selatan dan Alalak Tengah yang termasuk wilayah Kota Banjarmasin. Sementara Alalak Pulau termasuk wilayah Kabupaten Barito Kuala.

Alalak berbatasan dengan Kampung Kuin di Banjarmasin dan Barangas, kampung tua lainnya di wilayah Kabupaten Barito Kuala. Orang Kuin, Alalak, Barangas, Balandean, Sarapat, Tamban, Lupak, Tabunganen, Aluh-aluh adalah warga suku Banjar, Kalimantan Selatan yang akrab dengan pola  kehidupan sungai. Sungai Barito dan Sungai Martapura sejak lama membentuk masyarakatnya hingga melahirkan kebudayaan sungai.

“Cerita orang-orang tua dulu di ujung Pulau Alalak terjadi perang besar antara Pangeran Samudera dengan Pangeran Tumenggung,” kata Ali Djamali, Ketua RT 13, RW 01, Kelurahan Alalak Utara, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin.

Menurut dia, ujung Pulau Alalak hanyalah salah satu tempat pertemuan pasukan Pangeran Samudera dan Pangeran Tumenggung, penguasa Negara Daha. Tempat pertarungan pasukan Pangeran Samudera lainnya saat menghadapi gempuran pasukan Pangeran Tumenggung adalah sebuah tempat di Balandean yang bernama Rambai Habang.

“Disebut Rambai Habang karena sungainya penuh darah sampai-sampai pohon rambainya berwarna merah (habang). Rambai Habang di Balandean adalah tempat penghadangan pasukan Pangeran Samudera,” ungkap Ali.

Amir Hasan Kiai Bondan dalam bukunya Suluh Sejarah Kalimantan menyebutkan anggota pasukan Pangeran Tumengung yang tewas dalam pertempuran di ujung Pulau Alalak lebih dari 3.000 orang.

Pertempuran antara Pangeran Samudera dengan Pangeran Tumenggung sesungguhnya adalah perang saudara antar bangsawan Negara Daha sepeninggal Maharaja Sukarama, penguasa kraton Negara Daha. Raden Samudera yang merupakan pewaris sah kerajaan Negara Daha, sesuai amanat sang kakek Maharaja Sukarama, kemudian terusir dari istana menjadi putra mahkota terbuang. Tampuk kekuasaan Negara Daha dikuasai oleh Pangeran Mangkubumi, putra Maharaja Sukarama. Pangeran Mangkubumi kemudian terbunuh, tahta pun diduduki saudaranya, Pangeran Tumenggung.

Atas nasihat Mangkubumi Arya Taranggana, Raden Samudera melarikan diri dari istana dan hidup menyamar sebagai nelayan di Muara Bahan, Balandean, Sarapat dan Kuin. Oleh Patih Masih, nelayan sebatang kara itu diangkat sebagai anak. Setelah mengetahui jati diri Samudera adalah bangsawan sekaligus pewaris sah tahta Negara Daha, maka Patih Masih dengan  didukung Patih Balit, Patih Muhur, Patih Balitung dan Patih Kuin bersepakat mengangkat Samudera sebagai raja di Banjar. Rumah Patih Masih di Kuin menjadi istana sang pangeran dari Negara Daha itu.

Pertempuran kedua pangeran tak berkesudahan. Patih Masih mengusulkan kepada Pangeran Samudera minta bantuan kepada Sultan Demak. Bantuan --dengan syarat Pangeran Samudera dan rakyat Banjar bersedia memeluk Islam jika memenangkan pertempuran-- bala tentara akhirnya dikirimkan oleh kesultanan Demak. Medan pertempuran berlanjut di Rantauwan Sangyang Gantung sampai Negara Daha. Tak ada yang kalah dan yang menang, kedua pihak memutuskan duel di atas perahu antara Pangeran Samudera dan Pangeran Tumunggung.

Amir Hasan Kiai Bondan melukiskan suasana pertempuran terakhir yang genting itu dengan ucapan Pangeran Samudera kepada Pangeran Tumenggung, “Sodok ja badahulu! (tikam saja duluan).” Tiba-tiba, Pangeran Tumenggung memeluk dan mencium sambil menangis kepada Pangeran Samudera. Kepada anak saudaranya itu, Pangeran Tumenggung juga meminta maaf atas semua kesalahannya dan mengakui Pangeran Samudera sebagai raja yang sah. Peristiwa yang menentukan ini, menurut sejarahwan Idwar Saleh, terjadi pada 24 September 1526. Catatan ini pula kemudian yang dijadikan sebagai hari lahirnya Kota Banjarmasin. Pangeran Samudera kemudian menjadi penguasa pertama dinasti kerajaan Banjar Islam dengan gelar Sultan Suriansyah atau Panembahan Batu Habang. Aly (bersambung)

Kiriman terbaru

Halaman Terkait

3 Komentar





Validasi
  • Kristal30-07-2017 20:21:25 Good info. Lucky me I recently found your website by chance (stumbleupon).
    I've book marked it for later!
  • Dominic14-04-2017 01:11:20 Awesome article.
  • Luke18-03-2017 01:55:09 Hello.This article was really remarkable, particularly because I was looking for thoughts
    on this issue last Tuesday.

Web Statistik

Total Kunjungan : 1744835
Kunjungan Hari Ini : 194
Online User : 9
Last Update : 16-08-2017

KukuBima Sido Muncul

Amplang Khas Banjarmasin

Kokyaku Japanese Food

kirim kabar ke : kabar.bc@gmail.com

Gado-Gado Ayomo Banjarmasin

Travel Haji Banjarmasin

Lowongan Kerja KARIR PADwww.karirpad.com/lowongan/kerja/semuanya

[Get This]