Pemberontakan Jumat 9 November 1945 di Banjarmasin (1)

Tugu Peristiwa 9 November 1945 di Banjarmasin. Yudi Yusmili

Jumat 9 November 1945 memiliki arti khusus bagi perjuangan rakyat Kalimantan Selatan. Pada hari suci di kalangan umat Islam itu terjadi penyerangan rakyat terhadap simbol-simbol kekuatan NICA Belanda di Banjarmasin. Gugur sebagai pahlawan dalam peristiwa yang berlangsung di Jalan Jawa (kini Jalan DI Panjaitan) di depan Tangsi Polisi Belanda sebanyak 9 jiwa.

Peristiwa Jumat 9 November 1945 tidak berdiri sendiri karena didahului oleh sejumlah peristiwa sebelumnya sepanjang bulan Agustus sampai awal November yang dilakukan oleh para pemuda. Sebagaimana dikutip dari Sejarah Revolusi Kemerdekaan (1945-1949) Daerah Kalimantan Selatan (Editor A Gazali Usman dan Ramli Nawawi),  awalnya, beberapa pemuda yang tergabung dalam organisasi Pemuda Republik Indonesia mengumpulkan senjata-senjata Jepang yang mereka sembunyikan di hutan di luar kota Banjarmasin. Saat itu telah terjadi perpindahan kekuasan dari Jepang kepada Sekutu.

Beberapa pemuda yang melakukan pengumpulan senjata Jepang itu antara lain M Amin Effendi, Sardol, Thalib, Abdurahman dan Masran. Senjata tersebut kemudian disembunyikan di daerah Mandiangin dan Danau Salak.

Para pemuda di daerah ini kemudian membentuk suatu organisasi rahasia bernama Barisan Pemberontak Republik Indonesia Kalimantan (BPRIK) pada tanggal 19 September 1945. Tujuan organisasi BPRIK untuk mempercepat berdirinya Pemerintahan RI Daerah Kalimantan dan mengkoordinir tenaga perlawanan rakyat menentang gerak usaha pihak NICA Belanda.

Pada minggu pertama bulan Oktober 1945 para pemuda berhasil mendesak tokoh-tokoh pergerakan di daerah ini agar membentuk Komite Nasional Indonesia Daerah Kalimantan serta menetapkan seorang Residen Republik Indonesia Daerah Kalimantan.

Selanjutnya mengadakan persiapan-persiapan untuk melakukan upacara resmi tanda berdirinya Pemerintah RI Daerah Kalimantan tersebut. Rencana upacara peresmian dan perayaan berdirinya Pemerintah RI Daerah Kalimantan dan pembentukan KNI Daerah Kalimantan tersebut akan dilangsungkan tanggal 10 Oktober 1945 di halaman Gedung Pemerintahan (Kantor Gubernuran Provinsi Kalimantan Selatan di Jalan Jenderal Sudirman Banjarmasin sekarang).

Acara yang akan dilangsungkan adalah menurunkan bendera Belanda, menaikkan bendera Merah Putih dan pawai membawa bendera Merah Putih keliling kota. Acara yang sama dilakukan di daerah-daerah di Hulu Sungai. Acara penurunan bendera Belanda di depan Kantor Gubernuran gagal karena barisan rakyat dihadang oleh pasukan tentara Australia yang siap dengan senjata di tangan.

Tindakan tentara Austalia pimpinan Kolonel Rabson tersebut dilatarbelakangi adanya keputusan penyerahan kekuasaan daerah Kalimantan dari tentara Australia kepada NICA pada 1 Oktober 1945. Meski surat pengumuman tentang pelimpahan kekuasan daerah Kalimantan dari tentara Australia ke NICA yang ditandatangani Sir Thomas Albert ini baru disebarkan ke rakyat pada tanggal 24 Oktober 1945, sejatinya sejak 1 Oktober 1945 daerah Kalimantan berada dalam kekuasan NICA. Pimpinan NICA di Banjarmasin adalah Van Assenderp.

Rakyat pun kecewa dan makin benci kepada orang-orang NICA yang ingin berkuasa kembali di daerah ini. Aly (bersambung)

Kiriman terbaru

Halaman Terkait

1 Komentar





Validasi
  • zuied15-07-2014 15:21:45 banyak pahlawan yg terlupakan padahal penyerangan ini awal bergabungnya borneo/khususnya kalsel ke RI..

Web Statistik

Total Kunjungan : 2653952
Kunjungan Hari Ini : 544
Online User : 52
Last Update : 20-06-2018

KukuBima Sido Muncul

Amplang Khas Banjarmasin

Gado-Gado Ayomi

kirim kabar ke : kabar.bc@gmail.com

Lowongan Kerja KARIR PAD

[Get This]