Menelusuri Jejak Sejarah Kota Banjarmasin (2)

makam khatib dayan

Para peziarah di makam Khatib Dayan. kabarbanjarmasin.com/Yudi Yusmili

PARA pelaku yang terlibat dan berperan menentukan menyudahi perang saudara berkepanjangan antara Banjar pesisir dengan Banjar pedalaman antara lain Patih Masih, Patih Balit, Patih Muhur, Patih Balitung, Patih Kuin, Khatib Dayan dan Arya Tranggana. 

Tokoh-tokoh utama yang juga berjasa dalam pendirian kerajaan Banjar Islam berpusat di Kuin ini sebagian menetap di sekitar lingkungan dalam istana di Kuin. Termasuk Khatib Dayan dan Arya Tranggana, Mangkubumi Kerajaan Negara Daha.

 “Lokasi wilayah kompleks bangunan istana antara Sungai Sigaling sampai ke Masjid Sultan Suriansyah. Selain istana raja ada rumah kediaman para mentri dan panglima perang,” ujar Pengurus Makam Sultan Suriansyah, H Burhan, 72 tahun.

Kini, jasad-jasad tokoh pendiri kerajaan Banjar itu sebagian bersemayam di Kompleks Makam Sultan Suriansyah di Kelurahan Kuin Utara, Kecamatan Banjarmasin Utara, Banjarmasin. Sementara Patih Balit dan Patih Muhur menghabiskan masa tuanya kembali ke kampung asalnya di Balandean dan Sarapat.

Khatib Dayan adalah orang Demak yang mengislamkan Sultan Suriansyah. Beliau tidak cuma ulama besar tapi juga komandan perang,” ujar sesepuh masyarakat Kuin yang pensiunan Penilik SD ini.

Burhan mengungkapkan, dengan bantuan Khatib Dayan penguasa kerajaan Banjar Sultan Suriansyah menyebarkan Islam ke berbagai penjuru wilayah kekuasaannya.

"Selama masa pemerintahannya Sultan Suriansyah membangun 3 masjid yaitu di Kuin, Banua Lawas dan Wasah Hilir,” katanya.

Warga Kelurahan Kuin Cerucuk ini menyatakan perkawinan antara anak-anak cucu Sultan Suriansyah, Khatib Dayan dan Patih Masih melahirkan masyarakat Kuin saat ini.

  “Jadi orang Kuin itu, terutama yang bertugas di makam ini masih sepupuan. Uniknya di Kuin ini tidak ada yang bergelar Gusti (keturunan bangsawan Banjar), kalau ada itu pasti Gusti pendatang dari Martapura atau dari Sungai Mesa,” ujarnya.

Tidak adanya Gusti di Kuin, menurut Burhan, karena pesan leluhur untuk menghilangkan gelar tersebut demi melindungi diri dari penangkapan oleh Belanda saat masa penjajahan.

“Padatuan (nenek datuk) kita di Sabah (Malaysia) dulu berpesan jangan bergelar Gusti. Padatuan yang lari ke Pontinak juga berpesan begitu karena kalau memakai gelar Gusti pasti akan ditangkap Belanda,” jelasnya. Aly (bersambung) 

Kiriman terbaru

Halaman Terkait

2 Komentar





Validasi
  • Floyd15-07-2017 22:06:17 If you want to take a good deal from this piece of writing then you have to
    apply these methods to your won blog.
  • Ladonna14-04-2017 00:57:11 Good day I am so thrilled I found your webpage, I really found you
    by mistake, while I was researching on Google for something else,
    Regardless I am here now and would just like to say
    many thanks for a remarkable post and a all round interesting blog
    (I also love the theme/design), I don't have time to look over it all at
    the minute but I have bookmarked it and also added your RSS feeds, so when I have time I will be back to read more, Please do keep up the fantastic job.

Web Statistik

Total Kunjungan : 1744829
Kunjungan Hari Ini : 188
Online User : 12
Last Update : 16-08-2017

KukuBima Sido Muncul

Amplang Khas Banjarmasin

Kokyaku Japanese Food

kirim kabar ke : kabar.bc@gmail.com

Gado-Gado Ayomo Banjarmasin

Travel Haji Banjarmasin

Lowongan Kerja KARIR PADwww.karirpad.com/lowongan/kerja/semuanya

[Get This]