Yang Lucu dan Konyol di Debat Capres-Cawapres

Capres Cawapres 2014 Prabowo Hatta Jokowi JK

Capres Cawapres 2014 Prabowo Hatta, Jokowi JK.

Ada yang lucu dan terkadang konyol menyaksikan debat capres dan cawapres yang digelar Sabtu (5/7/2014) malam lalu.

Mari kita cermati satu per satu pertanyaan dan jawaban dari masing-masing pasangan capres dan cawapres dalam debat yang digelar di Hotel Bidakara, Jakarta, Sabtu.

Pertama, soal mafia

Cawapres Jusuf Kalla (JK) melemparkan pertanyaan kepada Prabowo Subianto soal mafia dalam debat dengan tema  “Pangan, Energi, dan Lingkungan.”

Pertanyaan JK ini ingin menyentil beberapa tokoh atau elite partai tertentu yang saat ini terjerat beberapa kasus korupsi. Diduga, para elite yang terjerat mafia atau kasus korupsi itu berada di kubu Prabowo-Hatta.

Menanggapi pertanyaan itu, cawapres Hatta Rajasa mengatakan, jika terdapat mafia dalam bidang daging, minyak, beras, gula, hingga haji, maka silakan diserahkan kepada penegak hukum.

"Kita serahkan kepada penegak hukum, tidak perlu melontarkan sesuatu yang tidak memiliki data, apapun bisa dikatakan orang-orang yang dikatakan Pak JK maling-maling tadi itu," kata Hatta.

JK membalas mengatakan bahwa kalau soal mafia-mafia yang disebutkan tadi,  ya KPK sudah menanganinya.

"Karena pidato Bapak ada menyebut pihak, kita berkampanye cuma 2 pihak, jadi seakan-akan kami. Apa yang disebut Pak Hatta tentang hukum. Sekarang (mafia) dagingnya ada di KPK, minyaknya ada di KPK, hajinya juga ada di KPK. Semua sudah jelas dan alhamdulillah tidak ada di (pihak) sini," jawab JK.

Kedua, soal Kalpataru dan Adipura

Soal Kalpataru dan Adipura,  Hatta Raja melakukan blunder yang memalukan. Hatta sepertinya tidak paham apa perbedaan Kalpataru dan Adipura.

Padahal, Hatta Raja 13 tahun menjadi menteri atau pejabat negara.

Hatta  bertanya kepada Jokowi-JK soal DKI Jakarta dan Kota Solo, dua wilayah yang pernah dipimpin Jokowi, belum pernah mendapatkan Kalpataru.

Pertanyaan Hatta Rajasa ini jelas sekali ingin mengeritik dan mungkin mengejek soal kinerja Jokowi sebagai walikota dan gubernur.

"Bentuk penghargaan itu bukan sesuatu yang terlalu prinsip, tapi lebih merupakan refleksi keberhasilan dari sebuah kota yang bersih dan sehat. Apakah itu dapat atau tidak,  itu konsekuensi. Mengapa misalkan DKI yang sebelumnya selalu dapat, tahun ini tidak dapat. Atau misalkan Solo, belum pernah dapat sampai saat ini," ujar Hatta.

Jusuf Kalla langsung berdiri menjawab ketika moderator mempersilakan. "Kalau kota itu bukan Kalpataru, tapi Adipura," kata JK.

Jusuf Kalla menjawab pendek, mengoreksi pernyataan Hatta Rajasa. JK memastikan bahwa   penghargaan untuk sebuah kota madya adalah Adipura, bukan Kalpataru seperti yang disampaikan Hatta.

Benar adanya, Adipura adalah sebuah penghargaan bagi kota di Indonesia yang berhasil dalam kebersihan serta pengelolaan lingkungan perkotaan.

Sedangkan Kalpataru adalah penghargaan yang diberikan kepada perorangan atau kelompok atas jasanya dalam melestarikan lingkungan hidup.

Karena waktu masih ada, Jokowi pun menanggapi pertanyaan Hatta Rajasa itu. Menurut dia, Solo pernah mendapatkan penghargaan lain, langsung dari pemerintah pusat.

"Kalau Kota Solo pernah dapat green city, dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Kehutanan," jawab Jokowi.

Ketika diberikan waktu kepada Jusuf Kalla, mantan wakil presiden itu mengatakan, "Kalau saya tidak menanggapi. Orang itu salah. Adipura bukan Kalpataru.” Penonton pun tertawa geli mendengar jawaban JK.

Ketiga, soal koperasi

Prabowo Subianto dengan sangat yakin bertanya kepada capres Joko Widodo mengenai pernyataannya saat kampanye bahwa koperasi tidak penting bagi petani.  

"Saya agak kaget saat kampanye di Indramayu 17 Juni, Bapak mengatakan petani tidak perlu koperasi. Padahal kita tahu koperasi menjadi soko guru ekonomi. Apa maksud Bapak?" tanya Prabowo.

Jokowi bangkit berdiri dan menjawab jangan-jangan Pak Prabowo salah mendengar atau salah membaca.

"Mungkin bapak salah baca atau salah dengar, saya kira semua orang tahu koperasi adalah soko guru ekonomi. Tidak mungkin seorang Jokowi menyatakan hal itu,"  Jokowi.

Sontak pendengar pun tertawa geli menyaksikan dagelan yang sebenarnya tidak perlu terjadi kalau saja Prabowo Subianto memiliki referensi yang cukup sebelum bertanya.

Keempat, ditegur moderator

Ada satu kejadian menarik dalam debat terakhir Pilpres 2014. Hatta Rajasa ditegur moderator karena bertanya tidak pada waktunya.

Hatta diminta oleh moderator untuk menanggapi jawaban Jokowi soal cara mengatasi bencana ekologi. Mantan Menko Perekonomian ini bukannya menanggapi, malah menyinggung soal renegoisasi kontrak yang tidak berkeadilan.

"Saya ketua renegoisasi kontrak. Renegoisasi kontrak yang tidak berkeadilan itu kontrak sekali. Jadi yang ingin saya tanyak, apakah Bapak akan mencabut atau merenegosiasikan kembali...." tanya Hatta.

Pertanyaan Hatta itu dipotong oleh moderator Sudharto P Hadi. Rektor Undip ini mengingatkan bahwa Hatta hanya menanggapi pernyataan Jokowi, bukan malah bertanya.

"Bapak seharusnya menanggapi," kata Sudharto. Penonton pun lagi-lagi terbahak.

Tetapi Hatta mengelak dengan mengataka bahwa dia mau menanggapi jawaban Jokowi. Namun, lagi-lagi bukannya menanggapi, Hatta malah mengulang pertanyaan yang sama.

"Tidak ada kesempatan lagi untuk menanggapi," kata Sudharto.

Kelima, soal renegosiasi kontrak

Pada sesi ini, Hatta Rajasa bertanya kepada Joko Widodo terkait renegosiasi izin di hutan lindung. Pasalnya, ada 23 perusahaan diberikan izin usaha di hutan lindung.

“Pertanyaan saya, apakah bapak berani merenegosiasi? Terima kasih,” tanya Hatta Rajasa.

Sayang, pertanyaan ini tidak dijawab, karena bukan sesi pertanyaan. Namun, Hatta Raja menggeser pernyataan ke  masalah mafia migas. “Bahwa setiap perpanjangan kontrak, banyak sekali yang merugikan kita.

Misalnya Freeport yang seharusnya saham kita 51 persen, apakah bapak menganggap perlu investigasi perpanjangan seperti itu?” tanya Hatta Rajasa.

Jusuf Kalla pun menjawab, “Saya sangat setuju dilakukan investigasi. Siapa yang memiliki saham Freeport saat ini dan kemana? Saham Newmont kemana sahamnya?”

Jokowi kemudian menambahkan jawaban JK bahwa investigasi itu perlu, tempat-tempat tambang memang banyak kelompok kepentingan, semua mengerti siapa yang dapat.

“Masalahnya kita mau tidak menyelesaikan itu? Kita bisa renegosiasi, tetapi kalau terus ada kelompok kepentingan itu, maka tidak akan selesai. Di situ persoalannya. Kami tidak tersandera dan terbebani oleh kepentingan-kepentingan kelompok. Koalisi kami bersih,” kata Jokowi.

Menanggapi jawaban Jokowi, Hatta mengatakan, artinya bapak setujukan dengan renegosiasi tersebut.

“Persoalannya adalah bagaimana upayanya supaya renegosiasi itu bisa menguntungkan kita sebesar-besarnya. Saya tidak setuju dengan kelompok-kelompok kepentingan, justru itulah yang harus kita selesaikan, dengan transparansi dan akuntabilitas. Jangan ada istilah karena ada kepentingan-kepentingan, kita tidak bisa mengerjakannya,” kata Hatta Rajasa.

Penonton lagi-lagi tertawa, karena Jokowi sudah jelas-jelas mengatakan bahwa kelompok-kelompok kepentingan itulah yang menghambat selama ini.

Sehingga Jokowi mengatakan, “Kami tidak tersandera dan terbebani oleh kepentingan-kepentingan kelompok. Koalisi kami bersih.” Hatta Raja seperti grogi dan tidak konsen.

Debat kali ini seru dan menunjukkan kualitas masing-masing pasangan. 

Soal siapa yang terbaik, pemilih yang menentukan pada tanggal 9 Juli 2014.

Tentu rakyat Indonesia yang mempunyai hak pilih untuk tidak blunder dalam menentukan pilihannya. Ahm

Sumber: suarapembaruan.com

 

Kiriman terbaru

Halaman Terkait

0 Komentar





Validasi

Web Statistik

Total Kunjungan : 1744846
Kunjungan Hari Ini : 204
Online User : 16
Last Update : 16-08-2017

KukuBima Sido Muncul

Amplang Khas Banjarmasin

Kokyaku Japanese Food

kirim kabar ke : kabar.bc@gmail.com

Gado-Gado Ayomo Banjarmasin

Travel Haji Banjarmasin

Lowongan Kerja KARIR PADwww.karirpad.com/lowongan/kerja/semuanya

[Get This]